[Seri Kulwapp ibu Profesional]
Materi kulwap
Iip jakarta 02
Kamis, 19 maret 2015
pk. 20.00-21.00
Tema: Komunikasi orangtua-anak
Sub tema: Balita Tantrum & Komunikasi Efektif
Narasumber: Niken TF Alimah
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. At-Taghabun, 15)
Bismillah,
Kita mulai dengan memahami apa itu komunikasi efektif sebagai cara berkomunikasi yang baik sehingga pesan yang disampaikan orang tua sama dengan pesan yang diterima anak. Komunikasi efektif akan menciptakan hubungan yang akrab dengan anak dan membuat anak juga belajar bagaimana berkomunikasi secara efektif pula karena anak-anak adalah peniru yang sangat ulung.
Perlu disadari bahwa komunikasi efektif merupakan faktor penting dalam pengasuhan. Faktor yang lain adalah menjadi role model untuk anak, memberikan kepercayaan pada anak, jujur, menghormati anak, memberikan label yang baik untuk anak, serta memberikan kasih sayang dan disiplin yang adil bersama dengan perhatian dan waktu untuk anak.
Nah, aktivitas berkomunikasi efektif kurang lebih bisa dikelompokkan menjadi aktivitas mendengar aktif, mengenali dan menamai perasaan, memberikan instruksi positif, komunikasi asertif, dan mengelola konflik dengan positif.
Tantrum sebagai salah satu bentuk konflik memerlukan kemampuan komunikasi efektif dari kita sebagai orang tua secara konsisten. Terkadang, orang tua merasa malu jika anak-anak melakukan tantrum, apalagi jika mereka melakukannya di tempat umum.
Untuk mengatasi perilaku tantrum pada anak, ada lima hal yang perlu dilakukan, agar baik orangtua dan anak, sama-sama belajar terhadap situasi yang sedang dialami oleh si anak.
Pertama, biarkan anak dengan perilaku tantrumnya. Orangtua sebaiknya menanggapi wajar perilaku anak tersebut. Diamkan saja, sambil pantau kondisi sekitar, pastikan anak aman dari bahaya.
Kedua, jangan marah apalagi memukuli anak. Karena marah tidak akan menghentikan tantrum anak, bahkan anak cenderung meningkatkan perilaku tersebut. Kunci menghadapi anak yang tantrum adalah sabar. Sabar merupakan salah satu bentuk komunikasi orangtua dengan anak, bentuk komunikasi ini akan lebih efektif dibanding marah maupun memberikan hukuman fisik. Anak belajar sabar melalui perilaku sabar yang ditampilkan orangtua.
Ketiga, jangan langsung memenuhi keinginan anak saat sedang tantrum. Ingat, anda sedang “berperang” dengan anak, memenuhi kebutuhan anak saat itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menimbulkan masalah baru. Beri penjelasan sederhana, misalnya dengan mengatakan bahwa mainan jenis tersebut sudah dimiliki atau sebaiknya main dengan mainan yang sudah ada. Penjelasan tanpa emosi lebih dapat dipahami dan diterima oleh anak.
Keempat, komunikasi antar orangtua penting. Sebelum menangani anak dengan tantrum, orangtua harus paham terlebih dahulu mengenai konsep tantrum dan bagaimana harus bertindak. Kesepakatan orangtua penting, agar anak melihat orangtuanya secara seimbang. Jangan sampai anak memposisikan ayah sebagai “pahlawan” karena keinginannya dibela dan ibu sebagai “musuh” karena keinginannya ditentang, atau sebaliknya.
Kelima, beri pengertian orang sekitar, terutama kakek dan nenek. Salah satu hal yang menggagalkan upaya kita mengatasi anak tantrum adalah tentangan dari kakek nenek, biasanya mereka akan langsung memenuhi kebutuhan anak bahkan cenderung memanjakan anak. Hal ini tentu saja tidak baik bila terus dilakukan. Beri penjelasan kepada orang tua, alasan mengapa kita membiarkan anak tantrum. Bila perlu, diskusikan mengenai hasil penelitian dengan bahasa yang mudah dimengerti.
Satu hal yang sebaiknya selalu kita ingat, bahwa Allah menjanjikan pahala yang demikian besar jika kita menjalani ujian tantrum anak-anak ini dengan ilmu yang benar. Konsistensi kedua orangtua maupun orang-orang terdekat, kesabaran, dan doa yang tak putus-putusnya merupakan penyemangat kita agar terus mengefektifkan komunikasi kepada balita kita.
Semoga kita selalu diberikan pertolongan.
Wallahu a’lam.
http://www.ibuprofesional.com
Komentar
Posting Komentar