Sebagaimana yang Anda ketahui, salah satu peluang besar dalam homeschooling anak-anak adalah menggali minat dan bakat anak. Tentu saja, penggalian minat dan bakat anak bukan hanya milik keluarga homeschooling, tetapi juga merupakan kesempatan besar bagi seluruh keluarga terhadap putra-putrinya. Sebelum itu, saya ingin membahaskan tentang apa itu minat dan apa itu bakat.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu; gairah; keinginan. Dalam bahasa Inggris, padanan untuk minat adalah passion, yang artinya adalah minat yang kuat yang disertai keinginan yang juga kuat. Menurut Gede Prama, seorang penulis produktif di bidang manajemen sumber daya manusia, minat bisa lahir dari dalam atau dari luar diri anak.
Terkadang minat itu tumbuh dari dalam diri anak dan kadang-kadang anak tidak bisa menjelaskan alasan mengapa dia menyukai hal itu. “Kenapa ya? Pokoknya suka aja…” begitu kira-kira minat yang berasal dari dalam diri anak. Minat yang berasal dari dalam diri anak itu bersifat alami, tidak dibuat-buat. Minat seperti itu bersifat spontan, seperti bawaan lahir. Jika anak Anda memiliki minat yang seperti itu, Anda layak bersyukur karena itu adalah salah satu pintu penting pengembangan minat dan bakat anak.
Selain minat yang berasal dari dalam, minat juga bisa lahir dari luar karena pengaruh lingkungan. Sebagai contoh, karena seluruh anggota keluarga suka bola, mulai bapak, om, kakak, tetangga, dan orang-orang penting yang ditemui sehari-hari, anak menjadi berminat pada bola dan ingin menjadi pemain bola. Sesuai namanya, minat dari luar itu bisa berubah-ubah, tergantung pada apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Minat ini tidak bersifat menetap dan alami pada anak.
Nah, sekarang kita bahas tentang bakat. Bakat adalah potensi bawaan lahir. Karena bawaan lahir, bakat bukan merupakan hasil dari proses pembentukan dari luar. Bakat adalah karunia dan titipan Tuhan. Bakat sudah ada sejak anak lahir. Bakat menjadi bersinar ketika ditemukan dan kemudian diasah serta ditempa. Bakat adalah bagian dari misteri Tuhan. Kita tidak bisa meminta bakat tertentu untuk anak-anak kita. Anak yang tidak berbakat menari tidak akan bisa menjadi penari luar biasa walaupun dilatih. Berkat pelatihan, anak yang tidak berbakat memang bisa dididik menjadi penari. Tetapi kemampuan menarinya akan kalah dibandingkan anak yang memang memiliki bakat menari. Karena bakat itu sendiri bersifat misteri dan seringkali tidak mudah terlihat pada anak-anak, hal penting yang perlu diperhatikan orangtua adalah tidak memaksakan anak pada sebuah bidang tertentu seperti yang diinginkan orangtua.
Filosofinya, jika anak kita ditakdirkan berbibit mangga, jangan dia diarahkan menjadi pohon apel hanya karena buah apel sedang laris dan berharga mahal. Jangan karena dunia entertainment seperti artis dan penyanyi memberikan peluang pendapatan besar, kemudian anak dipaksa untuk diarahkan ke sana.
Jadi, bakat itu tak berhubungan dengan prospek dan besarnya pendapatan. Bakat berkaitan dengan kemampuan alami anak mengerjakan sebuah hal dengan kualitas tinggi. Pada orang-orang yang berprestasi hebat, biasanya minat dan bakatnya saling berkaitan.
Sebagai contoh perenang hebat, dia suka berenang dan melakukan kegiatan fisik. Pada saat bersamaan, pada saat anak berlatih berenang, dia bisa belajar dengan cepat dan kemampuannya jauh mengungguli teman-temannya. Tapi ada kalanya minat dan bakat menjadi dua hal yang berbeda. Anak berminat pada sebuah hal, misalnya menyanyi atau menggambar. Tetapi ketika melakukan kegiatan bernyanyi, musikalitasnya tidak berkembang atau sense visualnya tidak terlihat pada saat menggambar. Dengan kata lain, minat ada tetapi bakat tidak ada. Kondisi ini biasanya terjadi pada minat-minat yang bersifat eksternal karena pengaruh dari lingkungan eksternal di sekitarnya.
Jadi, minat memang berbeda dengan bakat. Minat adalah urusan hati dan perasaan. Kita disebut berminat ketika senang dan sering melakukan sebuah hal. Anak senang bermain bola dan rajin berlatih adalah pertanda minat. Tapi minat belum tentu berarti berbakat. Sedangkan bakat berurusan erat dengan hasil. Anak yang berbakat belajar dengan cepat, alami, dan memberikan hasil bagus pada hal-hal yang dikerjakannya.
Sekali lagi, minat dan bakat anak sangat beragam. Minat dan bakat anak bisa mengambil bentuk bermacam-macam, misalnya berhubungan dengan mata pelajaran: matematika, bahasa Inggris, geografi, dan lain-lain. Minat dan bakat bisa berhubungan dengan dunia profesi, misalnya: menyanyi, bermain musik, sepakbola, fotografi, menulis, dan sejenisnya. Tapi, tak jarang minat dan bakat anak mengambil bentuk yang lebih abstrak, misalnya: jalan-jalan, melayani, bercerita, dan sejenisnya.
Untuk mengetahui minat dan bakat anak, sebagai orangtua kita perlu membuka kesadaran kita dan perhatian kita pada anak. Apa yang sering dilakukannya? Apa hal-hal yang dilakukan dengan sukacita? Apa yang dipelajarinya dengan cepat? Apa yang dilakukannya dengan berkualitas?
Nah, pertanyaannya: bagaimana proses untuk mengembangkan minat dan bakat anak ini? Apa yang harus kita lakukan sebagai orangtua? Mari kita mulai dengan hal-hal yang berkaitan dengan minat.
Hal pertama yang harus dilakukan orangtua untuk mengembangkan minat anak adalah peduli terhadap hal-hal yang dilakukan anak. Kita tidak hanya cuek terhadap hal-hal yang dilakukan anak, tetapi bersifat perhatian terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Kita tak hanya peduli dengan nilai ujian, juara kelas, atau hal-hal yang terkait dengan pelajaran. Tetapi kita juga peduli dengan kegiatan lain yang sering dianggap remeh, yaitu kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak.
Apa yang perlu diperhatikan? Yang perlu kita lihat adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak dengan sukarela, tanpa disuruh. Yang perlu kita amati adalah kegiatan-kegiatan berulang dan sering dilakukan anak. Yang perlu kita perhatikan adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan sukacita dan tanpa lelah.
Hal kedua yang perlu kita lakukan adalah mengapresiasi kegiatan yang dilakukan anak dengan sukacita. Apresiasi tak harus berbentuk hadiah. Apresiasi bisa dilakukan dalam bentuk-bentuk yang sederhana, tapi dilakukan dengan tulus; misalnya pujian, tepukan bahu, pertanyaan yang bersifat menggali cerita anak mengenai kegiatan yang dilakukannya. Obrolan dari hati ke hati yang dilakukan secara santai seputar kegiatan yang dilakukan anak juga merupakan salah satu bentuk apresiasi yang dibutuhkan anak untuk memperkuat pesan bahwa Anda mendukung kegiatannya. Apresiasi juga tak selalu harus dikaitkan dengan prestasi hasil output luar biasa yang dilakukan anak. Apresiasi bisa dilakukan untuk ketekunannya, kerja kerasnya, kreativitasnya, dan sebagainya.
Hal ketiga yang perlu dilakukan orangtua adalah memfasilitasi minat anak Proses memfasilitasi itu bisa dilakukan dengan aneka jalan. Intinya adalah untuk meningkatkan kualitas anak, baik kualitas sikap & mental, kualitas wawasan, dan tentu saja keterampilannya.
Proses memfasilitasi bisa dilakukan dengan memasukkan anak pada tempat kursus atau mengundang guru. Ini adalah cara paling umum yang bisa dilakukan untuk memfasilitas minat anak pada sebuah hal.
Hal-hal lain yang bisa dilakukan orangtua untuk memperluas wawasan anak adalah dengan melibatkannya dalam kegiatan komunitas dengan minat yang sama atau menghadiri pameran-pameran dan kegiatan yang terkait dengan bidang yang diminati anak. Dan tentu saja, pengenalan pada aneka kolaborasi dan kompetisi juga dapat menjadi sarana untuk pengembangan minat anak.
Hal keempat adalah ekspose atau memaparkan anak-anak pada berbagai hal baru. Kegiatan memaparkan ini penting dilakukan pada saat anak masih usia dini sampai remaja. Mengapa pemaparan ini perlu dilakukan? Supaya anak tak memiliki sudut pandang yang sempit dan terbatas mengenai kegiatan yang dilakukannya. Pemaparan dengan aneka kegiatan dan profesi bermanfaat untuk memperluas wawasan anak tentang dunia. Tools yang bisa digunakan untuk mengenalkan anak pada berbagai hal baru dapat berupa: kegiatan, buku, film, perjumpaan dengan tokoh, atau pameran-pameran industri.
Nah, selain minat, hal yang perlu diperhatikan juga adalah mengenai bakat anak. Bakat ini lebih sulit untuk dikenali. Ada memang anak-anak yang terlihat bakatnya sejak usia dini. Tetapi banyak sekali anak yang belum terlihat bakatnya. Seperti yang sudah saya bahaskan sebelumnya, bakat berkaitan dengan kualitas output yang dihasilkan oleh anak-anak saat melakukan kegiatan.
Hal pertama yang bisa kita lakukan untuk mengenali bakat anak adalah mengamati jenis-jenis kecerdasan anak yang menonjol. Jenis kecerdasan itu tak harus satu, tapi bisa juga beberapa jenis kecerdasan sekaligus. Untuk melihat jenis kecerdasan yang menonjol pada anak, kita bisa menggunakan pendekatan teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) yang membagi kecerdasan menjadi 8 jenis, yaitu: kecerdasan logika, kecerdasan tubuh (kinestetis), kecerdasan relasi (interpersonal), kecerdasan imaji (spasial), kecerdasaan musik, kecerdasan diri (intrapersonal), kecerdasan bahasa, dan kecerdasan alam.
Hal kedua yang perlu kita perhatikan pada anak-anak kita adalah mengenai kecepatan belajar. Hal apa yang cepat dipelajarinya dengan mudah. Pengetahuan dan keterampilan baru mengenai apa yang cepat dipelajarinya? Apakah dia mudah belajar tentang matematika dan logika, apakah dia mudah berkomunikasi dengan orang yang berbeda-beda, apakah dia belajar dengan cepat mengenai bentuk 3 dimensi, dan seterusnya.
Hal ketiga berkaitan dengan kualitas dari output yang dihasilkan anak. Pada hal apa anak menghasilkan output lebih baik dibandingkan anak-anak lain sebayanya? Apakah gambarnya lebih original? Apakah ide craft yang dibuatnya kreatif? Apakah dia lebih reflektif dan cepat memperbaiki diri? Apakah dia pandai berkomunikasi dan meyakinkan orang lain?
***
Dalam praktek parenting yang dijalani orangtua, proses mengembangkan minat dan bakat terkadang tidak selalu mudah dilakukan. Kita mungkin bisa menemukan hal-hal yang disukai anak. Tetapi, hal yang disukai anak itu belum tentu merupakan bakatnya.
Sebagai contoh, anak suka sekali bernyanyi, tapi suaranya biasa-biasa saja. Anak senang menggambar, tapi hasil gambarnya tidak luar biasa. Anak suka main game, tapi apa hubungannya dengan bakat? Ya… kegiatan yang disukai anak belum tentu merupakan bakatnya.
Sementara itu, hal-hal yang menjadi bakat dan kekuatan anak kadang tak mudah terlihat. Atau, jika pun terlihat, terkadang orangtua tak terlalu menyukainya, misalnya bakat memasak atau melukis yang dinilai kurang bergengsi dan tak seperti harapan orangtua.
Bagaimana jika orangtua menghadapi kondisi yang seperti itu?
Hal pertama yang perlu kita sadari adalah pengaruh lingkungan dalam kehidupan anak sangat mempengaruhi minat anak. Jadi, hal yang disukai anak belum tentu merupakan bakatnya. Jika menghadapi kondisi ini, hal penting yang perlu dilakukan orangtua adalah memberikan lingkungan yang apresiatif dan mendukung anak. Saat menekuni minatnya, mungkin anak tidak menghasilkan output yang luar biasa. Tapi dia tahu bahwa orangtuanya mendukungnya. Anak merasa nyaman dengan dirinya dan orangtuanya. Secara jangka panjang, kondisi ini berkontribusi pada kepercayaan diri anak dan trust kepada orangtuanya.
Saat berusaha mengenali dan mengembangkan minat dan bakat anak, kita perlu mengambil perspektif jangka panjang. Kita tak meniatkan untuk memetik hasilnya saat mereka kanak-kanak, tetapi proses ini adalah bekal untuk mereka saat remaja dan dewasa. Dengan perspektif jangka panjang, kita menjadi lebih sabar dan santai. Percayalah, walaupun anak berubah-ubah minatnya, selalu ada proses belajar yang bisa dipetik dari kegiatan anak menekuni minatnya. Perkembangan itu mungkin tak terkait langsung dengat keterampilannya, tetapi bisa jadi berkaitan dengan pengembangan dirinya. Mungkin dia bertambah fokusnya, mungkin berkembang ketekunannya, atau dia menjadi lebih tangguh, dia menjadi lebih pemberani dan percaya diri, dan sebagainya.
Saat anak berada dalam usia fundamental (pra sekolah dan awal sekolah dasar), fokus utama pendampingan kita adalah mengenalkan atau ekspose. Anak belum diharapkan untuk fokus mendalami sebuah bidang tertentu. Karena sifatnya pengenalan, kunci besar dalam fungsi kita sebagai orangtua adalah menghadirkan pengalaman yang beragam. Anak tak hanya duduk diam menonton TV dan bermain game di komputer, tetapi kita perlu membawa anak-anak pada berbagai kegiatan luar: jalan-jalan ke beragam tempat, camping, menonton konser musik atau drama, melihat pameran seni, mengunjungi pameran industri, melakukan kegiatan sosial, berkunjung ke panti asuhan, dan sebagainya.
Karena setiap anak unik, maka proses yang terjadi pada anak juga bisa berbeda-beda. Ada anak yang cepat tertarik dan fokus pada sebuah hal tertentu, ada anak yang tertarik pada semua hal, ada anak yang tidak tertarik pada semua hal alias cuek. Saat menghadapi kondisi anak yang berbeda-beda tersebut, hal penting yang perlu dilakukan oleh orangtua adalah memperhatikan, bertanya dan mendengarkan anak. Respon cerita anak dengan antusias. Jika diperlukan, berikan feedback yang mengeksplorasi. Hindari penghakiman yang membuat anak kehilangan antusiasme menekuni minatnya.
Nah, jangan lupa. Bakat itu tak selalu mudah dilihat. Ada bakat-bakat yang terkait kemampuan menghasilkan output dan berkarya, misalnya: olah raga, musik, menari, melukis, memasak, dan sebagainya. Tetapi, bakat juga seringkali mengambil bentuk yang halus berupa karakter yang menonjol; misalnya: kesabaran mendengarkan, kelembutan hati, kemampuan berkomunikasi, dan sejenisnya. Karakter-karakter seperti ini jika terfasilitasi dan berkembang bisa mengantarkan anak-anak menjadi seorang psikolog, aktivis sosial, ahli pemasaran, dan profesi-profesi lainnya.
Jadi, dalam proses pengembangan minat dan bakat anak yang kita lakukan; kunci yang selalu penting untuk diingat adalah kesabaran terhadap proses. Selain itu, pengenalan pada beragam pengalaman yang memperkaya hidup anak. Dan tentu saja, ada proses pengamatan, pendampingan, dan apresiasi yang terus kita lakukan, yang membuat anak bertumbuh sedikit demi sedikit, setahap demi setahap seiring waktu dan perkembangan dirinya.
Mira Julia
Www.RumahInspirasi.com
Dicopy dari grup islamic parenting community
Komentar
Posting Komentar