Ketika Anak Mengambil Hak Orang Lain


SharingmateriIPC/75

12 Februari 2016
3 Jumadil Awal 1437
_______________________
  
Oleh: Ust. Budi Ashari 
Tema: Parenting

Masih ingat waktu usia kecil dulu?

Saat melewati pohon jambu yang ranum milik orang lain. Kita segera mencari batu. Diayun ke arah jambu. Atau mengambil kayu panjang. Kemudian berebut buah yang rontok untuk segera dinikmati. Tak cukup dengan yang ada, kembali melihat-lihat ke atas untuk merontokkan kembali jambu yang menggoda itu. Atau ada juga yang langsung memanjatnya. Tapi tiba-tiba pemilik pohon datang. Dan…..semua pun berhamburan.

Masa kecil ohh masa kecil…….

〰〰⭕〰〰⭕〰〰⭕〰〰

✨ Islam mengajarkan kita memulai sejak usia sangat awal untuk menanam nilai.

✨ Demikian pula dengan barang yang harganya sepele. Mungkin hanya jambu yang tidak ada harganya. Dalam pola pendidikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam terhadap anak-anak di zamannya, beliau memperhatikan nilai di baliknya. Tak hanya memandangnya sekadar setangkai anggur atau sebutir kurma.

Sehingga seorang anak kelak akan terbiasa menjaga dirinya dari hak orang lain sekecil apapun. Jika dari yang kecil dijaga, maka latihan ini diharapkan akan menjaga diri dari hal-hal yang besar. Sebaliknya, kecerobohan mengulurkan tangan pada hak orang lain walau hanya sepele, merupakan latihan buruk. Tangan yang terbiasa, hati yang menyederhanakan masalah. Hingga saatnya telah menjadi kebiasaan, hak umat yang besar pun bisa disikat habis.

✨ Mari kita lihat tips nabawiyah tentang hal tersebut,

Dari Rafi’ bin Amr al Ghifari, dia berkata: Dulu waktu aku masih usia anak-anak melempari pohon kurma milik orang-orang Anshar (masyarakat asli Madinah). Hal ini diadukan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam: Ada anak kecil yang melempari pohon kurma kami. Maka aku dibawa ke Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Beliau bertanya: “Nak, mengapa kamu melempari pohon kurma?”

Aku menjawab: “Aku makan”

Beliau berkata: “Jangan kamu lempari pohon kurma itu. Makanlah apa yang jatuh di bawah”.

Kemudian beliau mengusap kepalaku dan beliau mendoakanku: “Ya Allah kenyangkanlah perutnya”. (HR. Ahmad no. 19453)

Bayangkan suasana hadits di atas. Anak kecil yang gemar melempari pohon kurma orang lain itu diadukan ke Nabi dan dibawa ke beliau. Tentu suasana takut plus menegangkan pada sang anak sangat mendominasi. Semacam diadili. Suasana yang tidak menguntungkan bagi seorang anak tersebut, diselesaikan dengan sangat baik oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yakin bahwa anak tersebut benar-benar senang melempari pohon kurma orang lain, beliau bertanya motifnya. Suatu hal yang sangat bijak. Karena bisa jadi, seseorang yang melakukan sebuah kesalahan nyata sekalipun, mempunyai pembelaan terhadap kesalahannya. Tentu menjadi bijak, ketika ditanyakan dulu motif dan penyebabnya. Karena mungkin jadi akan ada informasi baru yang membuat semua keputusan bisa berubah.

Ternyata, anak ini memang hanya ingin menikmati kurma. Sehingga dia sering melempari kurma, agar bisa memakannya. Dengan jawaban ini, maka jelaslah bahwa ini memang tindakan salah. Mengambil milik orang lain tanpa izin dan seridho pemiliknya.

Barulah masuk sesi solusi. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa tindakan melempari kurma seperti itu tidak diizinkan. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam katakan: “Jangan kamu lempari pohon kurma itu”.

Sebuah penjelasan yang jelas. Tidak ada marah-marah, caci maki, tuduhan kasar. Tapi penjelasan. Sekali lagi penjelasan.

Solusi itu dibarengi dengan jalan keluar yang bisa diberikan untuk memenuhi keinginan sang anak menikmati kurma. Kata Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam: “Makanlah apa yang jatuh di bawah.”

Ini sebuah cara yang sungguh menarik. Larangan tanpa solusi terhadap sumber masalah, sering kali hanya menjadikan masalah itu seperti bara dalam sekam, yang akan mudah menyala suatu saat nanti.

Sang anak hanya ingin menikmati kurma. Ini hal yang boleh. Untuk itulah dipilah antara cara menikmati yang tidak boleh yaitu melempari pohon orang lain. Dan cara menikmati yang boleh yaitu memunguti yang jatuh dari pohon. Sehingga sang anak tahu cara yang benar untuk menikmati hal yang diinginkan tersebut.

Setelah itu, menjadi kebiasaan Nabi: Memberikan Sentuhan dan Doa. Kali ini, Nabi mengusap kepala dan berdoa sesuai dengan masalah yang sedang terjadi: “Ya Allah kenyangkanlah perutnya”.

✨ Tips Nabawiyah di atas bisa kita analogikan untuk masalah kebiasaan anak yang suka mengambil barang temannya.

✨ Cara ‘mengadili’ seperti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam harus bisa kita tiru. Jangan buru-buru memberikan vonis sebelum menempuh langkah-langkah hebat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

1⃣ Tanyakan motif perbuatannya.
Jika benar ia berbuat kesalahan, sampaikan penjelasan tanpa kalimat kasar dan tuduhan tentang kesalahan tersebut.

2⃣ Berikan solusi pengganti atau cara yang benar untuk ia bisa mendapatkan keinginannya.

3⃣ Akhiri dengan sentuhan fisik yang lembut bersumber dari hati yang tulus.

4⃣ Doakan ia agar dijauhkan dari penyakit jiwa tersebut

Sumber:

http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel--keluarga/anak-parenting/63-tips-nabawiyah-anak-mengambil-hak-orang-lain

Divisi Program IPC ✏

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Islamic Parenting Community  
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

fan page: https://m.facebook.com/isparentingcommunity

Instagram: @islamicparenting

twitter: @isparentingcom

web: IslamicParenting.net

Komentar